usaha terbaik …

ketika ada tema usaha terbaik, saya sebenernya semangat di awal minggu. ceritanya saya sendiri mau mencoba bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan saat ini hingga calon usaha yang akan saya lakukan, duh sok-sok an banget pokoknya. Tetapi setelah selang sehari-dua mikir lagi, lho kok aneh ya, atau tiba-tiba tidak semangat membahas itu semuanyaa.

ketika tadi diperjalanan menuju kantor kementerian untuk mengambil data, tiba-tiba semangat lagi untuk mencoba menulis tema usaha terbaik ini, tentang usaha terbaikku. hihihi.. saya akan sedikit bercerita usaha terbaik versi saya.

menjadi seorang istri ternyata bukan hal yang mudah, menurut saya sendiri lho ya. Dulu sebelum menikah, banyak sekali wacana, rencana, impian, dan tentunya khayalan “jika suatu saat nanti aku menjadi istri orang.. aku pasti akan ……………………………..”

titik-titik itu menggambarkan istri yang ideal. hahahahaha.. misalnya mulai dari bangun pagi, nyiapin sarapan, cuci baju, nyetrika, kerja bantu suami, sabar dll dll dll, pokoknya yang indah-indah deh . dan dulu itu panutan Istri Soleha adalah Khadijah binti Khuwailid alias Nabi Muhammad SAW yang sangat dicintai oleh Beliau dan dicemburui oleh istri Beliau yang lain.

ternyata setelah 1 tahun menjalaninyaaa.. hal itu tidaklahh mudah, yah tidak mudah sama sekali, padahal tugasnya baru menjadi seorang istri doang (blm jadi ibu). Jadi kebayang gimana menjadi seorang istri dan seorang ibu sekaligus.. kebayang juga jadinyaa yaa ngurus suami plus ngurus anak(-anak), (kalau ngurus kerjaan diluar itu, itu pilihan, baik wanita berkarir di kantor atau ber karis di luar, semua sama menurutku).

pengalamanku setahun belakangan ini menjadi seorang istri..

awal-awal menikah, waktu itusaya masih bekerja, dan awalnya bisa bangun pagi (karena bawaan kebiasaan sebelum menikah), nyiapin makanan sarapan, minum, baju dan lain-lain, tapi ternyataa hal tersebut hanya bertahan sebentar, kesibukan di kantor dan pulang malam membuat saya tidak dapat lagi melakukan hal tersebut. aduh parah banget ya. Merasa gagal, merasa sangat bersalah dan berpikir : “kok saya tidak bisa jadi isteri yang baik” . dan kami berdua ini mencoba hidup dari 0 banget, tanpa pembantu dan tanpa kehadiran orangtua di rumah. jadi kelabakan pluussss kaget. belum lagi pola kerja pak rio (suami saya) ini agak-agak beda dengan orang kantoran (masuk jam 9 atau 10, pulang juga malem. kebayangkan saya harus berangkat kerja duluan disaat suami baru bangun udah saya tinggal).

lalu juga awal-awal menikah masih bisa masakin nasi dan lauk sederhana (gorengan, telor, sayur dll), tapi lagi-lagi itu hanya bertahan sebentar saja. aduh istri macam apa saya ini yaaa..

bersihkan rumah, setrika dan pekerjaan rumah tangga lainnyaa, awal-awal saja rajin, lama-lama (dan lagi-lagi karena alasan bekerjaa), hanya bertahan sebentar saja, yaampun istri macam apa saya ini..

selama bekerja di kantor pun, walaupun niat awalnya membantu suami dalam bekerja, membantu keuangan rumah tangga (karena mengingat kami berdua bener-bener dari 0), tetapi hal tersebut ternyata tidak membuat suami saya ini senang, malah membuatnya semakin TIDAK TENANG. apalagi saya juga terlalu jujur bercerita karena adanya kasus (bahkan banyak) perselingkuhan di kantor. makinmakin gak tenang lah pak suami ini, belum lagi kalau keluar kotaa. ampun deh pasti selisih paham mulu, pak suami tidak tenang sampe saya pun harus ngasih kabar makan sama siapa, tidur sama siapa, subdit mana yang ikutan dll dll dll. jadi gak bisa kerja dengan tenang dua-duanya.

setahun kemarin, kami bener-bener mendapat ujian banget sebagai suami-istri baru, dalam bayangan saya, setahun ini akan baik-baiknya, menyesuaikan satu sama lain, scara kan baru menikah dan masih ada bunga-bunga asmara , romansa-romansa anak muda. Tapi ternyata ujiannya juga sudah dimulai sejak hari pertama menikah. ujian saya yaa ini salah satunya adalah ketidak tenangan pak suamiΒ karena saya bekerja kantoran dan lingkungannya juga seperti itu. dan selalu berselisih pendapat akan hal ini (tapi selalu dicari jalan keluarnya sih, tapi berulang, kayak lingkaran setan)

Dipikir-dipikir selama setahun belakangan itu kok toh saya belum bener ya jadi isteri. Maksudnya isteri secara baik yaa, soalnya scara di rumah kerjaan rumah gak bener (suami tidak terurus), kerjaan di kantor pun bikin suami gak tenang, ampun deh serba salah dan bingung. sampai akhirnyaaa kami sepakat untuk: saya bekerja dirumah – dengan apapun itu yang akan di support – , tak perduli tidak ada lagi tambahan uang pemasukan, yang penting di rumah.

Saya dirumah pun bukan tidak ada konflik ,ternyata cobaannya juga ada, kebiasaan saya selama bekerja kemarin masih terbawa yaitu tidak melakukan pekerjaan rumah tangga (hehehehe..) dan linglung harus ngapain awal-awal dirumah, sedangkan saya bekerja ngajar hanya sekali seminggu saja (padahal semester kemarin ngajarnya 2x dan padet banget). kebayangkan yang biasanya aktif bekerja, dan berkegiatan (kebiasaan sejak muda) tiba-tiba harus di rumah dengan pekerjaan yang belum jelas (alhasil cuma tidur nonton doang), hanya sibuk seminggu sekali — stressssss bangeeettt buukkkk.

sebulan – 2bulan stres banget yaampun, sampai akhirnya kami ngobrol heart to heart. Apa sih yang dicari di dunia ini? Apa yang dicari oleh istri? Apa yang dicari dari bekeluargaa. Dan lumayan banyak ngobrol nya, saya pun mencurahkan kegelisahan saya hanya di rumah, tidak berkembang bahkan kok saya rasa jadi downgrade, belum lagi masalah keuangan (mengingat kami berdua masih ada utang cicilan buat modal usaha kemarin). Tapi pak suami juga cerita tekanan di kantornya seperti apa dan kalau saya bekerja membuat pak Β suami tidak tenang menyebabkan terbengkalainya pekerjaan yang hasilnyaa dia juga diomelin.. Lumayan lama kami ngobrol hal ini. dan pada akhirnyaa, saya pun harus mulai menerima dengan ikhlas kalau : saya seorang isteri dengan suami pak rio yang mengingkan isterinya bekerja dengan adanya ridho dari suami, bekerja di rumah dan berkreasi di rumah agar suaminya mencari rezeki dengan tenang atau ngajar. bekerja tidak harus di kantor kan. bisa dari mana saja toh. setelah ngobrol sana-sini dan mencari guru (walaupun dari ceramah via internet) ada pertanyaan di dalam benak saya. Apa kah yang mau dicari di dunia ini dari bekerja di kantor jika tidak ada ridho suami? uang kah? atau pengakuan orang-orang kah?

Setelah kejadian itu, dan mencoba ridho dan ikhlas, ntah kenapa ada aja ternyata datanglah rezeki untuk saya, bisa bekerja dari rumah dengan penghasilan yang Alhamdulillah cukup untuk menambah-nambah kebutuhan rumah tangga, rezeki untuk memulai usaha (aamiin..), rezeki kerjaan sambilan, dan rezeki ntah dari mana yang didatangkan oleh Allah. Dan saya semakin yakin, ternyataaa emang ridho suami lah yang membuka rezeki seorang isteri dan keluargaa.. hihihi.. kegalauan dua-tiga bulan kemarin yang membuat saya uring-uringan pun udah hilang dihempaskannn oleh kebaikan-kebaikan yang datang ini. hehehehe.. ternyata rejeki istri itu memang dari ridho suami ya, membuat suami tenang, membuat suami senang tidak harus membantu keuangan, tetapi ketenangan suami sendiri.

tentunyaa tiap keluarga beda-beda yaa, ada yang malah suaminya ingin agar istrinya bekerjaa dengan alasan “cicilan rumah, mobil, biaya anak dll pokoknya”, tapi suami saya justru tidak ingin istrinya berkarir diluar, hal ini untuk menghindari hal-hal/kejadian-kejadian yang tidak diinginkan oleh sang suami dan lebih baik berkaryaa di rumah (bekerja sambil ngurus keluarga hihihi..). untuk masalah rezeki Insya Allah ada porsinya sendiri-sendiri dan tidak harus berasal dari kantor ya kan. dan kami pun tidak pernah merasa minder dengan rezeki yang kami dapat sekarang ini, memang tidak seperti teman kami kebanyak, tetapi Alhamdulillah berkah dan cukup.

Saat ini saya hanyaa ingin tetap melakukan usaha terbaik untuk menjadi isteri yang baik di hadapan suami dan Allah, mungkin saja dengan menjadi isteri yang baik, Allah memberikan izin untuk menjadi Ibu yang baik. Aamiin.

 

cerita ini untuk #1minggu1cerita #usahaterbaik

You may also like

2 Comments

  1. Dan sedang berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang baik. bagi orang lain mungkin belum yang terbaik, tapi setidaknya bagi istri jadi yang terbaik.
    aamiin..
    semangat mecul…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *