Menikah?

Menikah menurutku adalah sebuah step yang sangat penting dalam hidup. Ntah kenapa aku berpikir menikah tidak sama dengan step berpendidikan s2,s3 dst atau bekerja (berkarir). Berpendidikan tinggi itu penting dan bekerja itu jg penting tapi bukan step utama terpenting dalam hidup ini. Menikah menentukan nanti bagaimana rencana hidup, kehidupan dan cita-cita nanti. Termasuk kelangsugan hidup puluhan tahun ke depan. Coba bayangkan, ketika sebelum menikah tentunya hidup kita sedikit lebih bebas menentukan jalan yah yang mengendalikan atau memantau hanya bapak ibu kita yang pada dasarnya ketika kita dianggap dewasa, semua pilihan diserahkan ke kita, misal sekolah. Sebelum menikah kan kita bisa bebas sekolah dimana saja dan orangtua mendukung jika itu baik. Tapi ketika sudah menikah, banyak hal yang harus dipikirkan, ketika ada anak, ketika blm ada anak, apa prioritas kita dalam hidup, bagaimana pasangan kita bisa mendukung dan tidak cita2 kita. Apakah cita2 kita terhambat atau bahkan bisa sukses berkali-kali lipat setelah menikah karena support keluarga.

Dan menurutku, menikah lah yang menentukan gimana kedepannya hidup kita akan berjalan, bagaimana jalannya skenario hidup kita nanti. Happy ending atau malah tidak happy ending.

Aku membayangkan jika aku menikah nanti, pasanganku adalah pasangan yang sempurna. Tapi bukan sempurna seperti sosok pangeran di negeri dongeng ya.. Yang digambarkan dengan sosok pria tampan, berkuda, pangeran, jago memanah dan berburu, jago berkuda, kaya raya (jelas lah orang pangeran). Hahahahaha.. 

Dalam bayanganku nanti, sosok pasangan hidupku ini adalah pria yang bisa mengerti pola pikirku, bisa menerima segala kekuranganku baik sifat sikap dan mungkin penyakit (hehehe.. Ini penting ini, karena sakit siapa yang tau kan, tau2 penyakitnya aneh dan ditinggal lagi. Argh sedih deh), bertanggung jawab terhadap keluarga (kalau ini mah wajib ya apalagi kalau sudah ijab qabul), dan ini nih penting banget, dia bisa menggantikan sosok ayah kakak dan adikku. Oiyah ada lagi selain itu, dia bisa diajak ngobrol tentang segala hal apapun itu dari obrolan paling penting di muka bumi ini sampe yang tidak penting. Hahahaha.. Kenapa ini menurutku paling penting? Nih yah dalam bayanganku ini adalah kalau umurku nanti dengan pasanganku panjaaanggggg mungkin bisa melihat cucu tumbuh besar dan otomatis anak-anak sudah besar dan memilih hidup dengan pasangannya, maka yang ada dan hadir pada saat itu adalah pasangan lagi kan.. Yaaaa kalau ada anak, rumah rame, kalau sudah hidu masing2, yah berati hidup kita berdua lagi, balik lagi deh kayak awal pacaran dan awal nikah. Hehehe..

Oiyah sebelum jauh-jauh sampe ada cucu, coba aja bayangkan jika orang tersebut gak bisa diajak ngobrol tentang hal apapun, dan hidup menjadi horor ketika ketemu malah berantem dalam artian jelek bukan berantem berdebat utk berpikir dan menambah wawasan, heuuhh horor! Kayaknya buat pulang ke rumah cepet aja males ya? Hahahahaha.. (Gatau sih ini, ini pikiranku saja sih.) bangun tidur liat muka dia, mau tidur juga, sabtu minggu juga.. Menderitaaa banget kali yah kalau gak nyaman dan gak bisa ngobrol. Hahahaha…

Aku memutuskan ingin menikah sebenernya sejak tahun 2014, tetapi pada saat itu ada beberapa hal yang aku pikir aku memaksakan kehendak, apa aku mikir waktu itu hanya mengejar umurku yang notabene sudah agak tua dan membuat mamaku tenang jika aku segera menikah. Padahal untuk pasangan semdiri, aku belum benar-benar “klik”. Setelah aku sempet merencanakannya dan kemudian membatalkannya, aku memang tidak butuh waktu lama untuk bertemu dengan pasanganku lagi dan kemudia berniat menikah.

Kenapa terlalu cepat ya berpindah? Apakah aku orang yng cepat berpindah dan gegabah untuk masalah menikah?

Dengan lantang aku menjawab tidak.

Percaya gak sih kamu, ketika kita diberikan oleh Tuhan seperti “jodoh” kita utk hidup bareng, rasanya beda. Bukan sepeti rasa kita menemukan pacar atau genetan atau obsesian ya. Rasanya itu ketika hal-hal yang sulit menjadi mudah, hal yang tadinya gak mungkin dilakukan jadi mungkin, semua yang tak terduga terjadi dan pokoknya lancar deh (yah walaupun tidak sepenuhnya 100% lancar tapi dimudahkan pokoknya)

Itu hal yang saya rasakan saat itu dan saat ini sama yang Insya Allah akan menjadi suamiku nanti.
img_5508.jpg

Wife of A. Satria Triwardana. Lecturer. Love Coffee, Photography and Travelling.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer