Life Love

drama kuliah studio perencanaan wilayah

By
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

tanggal 11 Juli 2018 adalah hari terakhir kuliah studio perencanaan wilayah, ya tepatnya bukan kuliah sih, itu sudah UAS. dan UAS yang aku lakukan adalah uas lisan, bukan tertulis. kenapa? aku pikir kalau kuliah studio semacam ini ketika diberikan ujian tertulis, aku meragukan apa yang mereka tulis. bisa saja melihat jawaban temannya atau ya bisa mengarang bebas. tetapi tidak jika langsung wawancara, terlihat kejujuran dan kebohongan mereka.

jadi apa itu kuliah studio perencanaan wilayah?

di ilmu planologi itu (perencanaan wilayah dan kota), kami memahami seluruh aspek yang terkait dengan kota dan wilayah, sebenernya tujuan dari ilmu ini, salah satunya mahasiswa memahami dan bisa membuat sebuah rencana tata ruang kota dan wilayah dengan baik dan benar. selain kuliah mengenai teori-teori kota, wilayah dan aspek-aspek lainnya seperti ekonomi, transportasi, lingkungan, fisik, penduduk danlain sebagainya, di planologi juga ada kuliah “lapangan”, kami menyebutnya studio. studionya juga macam-macam, mulai dari studio proses (ini adalah studio pertama, belajar mengenai proses perencanaan), studio tapak (lingkupnya udah mulai dengan skala kawasan atau kampung), studio kota (yang ini lebih luas lagii, skala wilayahnya kota atau mungkin kecamatan untuk pembuatan rencana detail), dan studio wilayah (wilayah disini identik dengan yg lebih luas dari kota, kami biasanya menggunakan kabupaten). di Esa Unggul ini hanya ada 4 studio itu, tetapi kalau di ITB ada 1 lagi studio namanya Studio Infrastruktur dan Transportasi. jadi, setelah semester kemarin sudah diberikan mengenai perencanaan wilayah, semester ini langsung praktik perencanaan wilayah. bagaimana merencanakan wilayah yang sesungguhnya. Langsung di wilayah perencanaan, survei, minta data, analisis dan bagaimana merencanakan.

awal mula kuliah studio ini, penuh drama. iya drama, kayak sinetron banget. drama apakah itu?

jadi begini, sisttem di esa unggul itu bukan seperti sistem di ITB tempat aku belajar dulu . aku di ITB itu ada pembagian kelas (tepatnya jurusanku) Nim genap (yg akhirnya genap) – nim ganjil, nim kecil (antara nim 01-nim setengah kelas) – nim besar (nim setengah kelas – nim paling akhir), untuk kelas studio pun kami acak, yg ngacak yaa dari jurusan atau dosen mungkin atau asisten. aku gatau, yg jelas pas masuk kuliah itu, utk kelas genap ganjil, nim atas bawah ya otomatis, kalau kelas studio ya pasrah aja. karena kita harus dibiasakan dan dididik untuk bisa bekerja individual dan bekerja dengan siapapun, karenaaa pada saat selesai kuliah dan lulus pun, kita gak bisa milih kerja sama siapa dan dimana atua bagaimana. harus siap. lain halnya di esa unggul. jika ada kelas yang dibagi itu berdasarkan “dulu-duluan bayar dan otomatis bisa daftar online”. nah khasusnya yang ini adalah para mahasiswi angkatan ini janjian untuk bayaran kuliah kapan dan daftar kuliahnya ditanggal yang sama. jadi semua memilih kelas sesi 01, mayoritas perempuannya. ada laki2nya sisa 2 atau 3 gtu yg daftar. dan sementara yang para mahasiswa (pria), tidak tau kalau si para perempuan sudah daftar dan janjian, alhasil sewaktu para mahasiswa itu daftar ulang, sisa 1 kelas dan semua mau tidak mau memilih kelas tersebut. ada sih 2 perempuan, tanty dan rahmi, tapi sepengeliatan ku juga, mereka berdua beda frekuensi dengan cewe-cewe itu.

kenapa coba mereka seperti itu? karenaa yg cewe-cewe tuh seperti kapok gitu loh kerja barena yang cowok. yang lebih rajin cewe, yang ngerjain laporan, konsep, mikir, ngurusin survei dll tuh yg ceweeekk2 mayoritas, yg laki tinggal dateng, denger, print, tulis2 dikit dan survei. habis itu udah selesai ngilanggg. sudah 3 studio selalu seperti itu, dan kapok lah mereka. soal nilai, yaa gak beda jauh, jadi siapa yg gak sebel kan. yang kerja dan tidak kerja nilainya beda tipis atau bahkan sama. jadi wajar aja sih kalau mereka janjian untuk tidak mau sekelas dengan yang menyusahkan. hehehehe.

Awal kuliahpun, kami dosen studio wilayah (saya dan adit), bahkan bu kajur pun harus turun tangan memberikan masukan, mengenai kelas studio ini. karena ini menjadi studio wilayah yang pertama, plan kami para dosen menginginkan bahwa kelasnya di gabung. TAU KAH APA HASILNYA? mereka diskusi daaannn memilih untuk dipisah, terutama yang para perempuan. sangat-sangat BIG NO untuk bergabung dengan yang lelakii.. yasudah alhasil, aku mendapatkan kelas yang isinya mayoritas laki-laki 16 mahasiswa dan 2 mahasiswi yang dimana mereka memang tidak banyak main dengan yg perempuan lainnya. — bulan pertama kuliah, yaah itu aku pikir bulan-bulan “shock” nya mereka, asumsi aku loh ya, karena pas dapet dosen macam aku ini yang lebih step by step dan harus sesuai prosedur utk studio ini, maksudnya bukan berarti dosen lain tidak seperti ini. tapi aku ternyata orangnya termasuk kaku untuk hal2 prosedur gini. apalagi kalau dikasih ke mahasiswa, dan masih bawa-bawa cara ngajar dosen dan asistenku dulu. kalau proses perencanaan wilayah yang bener sesuai prosedur tuh gimana. karena aku bukan proyekaaan banget orangnya,jadi gak bisa ngajarin yang taktis, yaa pokoknya harus sesuai prosedur. dan alhasil yaaa begitu lah, seperti presentasi sering diulang, mereka tidak memahami topik, tidak paham hal-hal sederhana seperti desain penelitian, desin survei, metodologi, harus membaca darimana peraturannya, harus seperti apa dasar pemikiran, danlain sebagainya. yaa tak jarang akupun harus sedikit menaikan intonasi atau kecewa dengan yang mereka lakukan. bahkan untuk persiapan survei saja kurasa tidak siap. pengumpulan laporan saja harus tertunda. geram sekali aku saat itu, gak geram lebay sih, hanya yaa kecewa dan berkali-kali aku harus kasih tau tentang tanggung jawab dan disiplin. setelah membacapuuunn masih berantakan, yassalam. setelah uts pun, hmm ya seperti biasa pasti mood dan semangat semakin turun, tapi aku ttp tidak mau mereka santai, setiap pertemuan isinya presentasi. dan taukan hasilnya, presentasi selalu diulang karena ketidak siapan mereka.

Kita sebagai dosen tau kan, mereka siap atau tidak. yaa alhasil waktu semakin mepet dan sangat kurang sekali untuk mengeksplor. kecewa sih iya, tapi aku apresiasi mereka, karena mereka bisa dibilang (mayoritas) baru benar-benar bekerja di studio ini tuh sekarang, dan itu pun mereka akui sendiri. dasar ya para lelaki malas sekali untuk mengerjakan tugas dan terlalu santai mengharapkan perempuan yang bekerja. masih banyak yang kurang mereka eksplor, seperti mencari sesuatu teknik analisis, peraturan (dan sejenisnya), teori, pedoman itu masih sulit sekali, atau memang tipikal mahasiswa jaman sekarang, apa-apa harus disuapin dan tidak mau eksplor banyak. yaa aku gatau sih, tapi merekayang jelas seperti itu.

untuk asistensi dan keaktifan mereka bertanya tuh kurang, padahal mereka tau masih banyak kurangnya, tapi tak ada satupun yang bertanyaa. masa alasan saya kerja. padahal saya sudah bilang jika mau bertanya lewat email 24jam, kalau whatsaapp hanya jam kerja saja. simple toh.

dann setelah selesai perkuliahan di kelas, 11 juli 2018 kemarin akhirnya uas. tipe soalku lisan. dan sistemnya acak tidak ada yang ditest bersamaan dengan teman yang aspeknya sama. dan pertanyaannya random. so, jadi jangan berharap jika setelah aku test, mereka bertanya pertanyaannya apa, ya siapa tau saja beda dan mungkin bisa sama sih.

kenapa aku inginnya lisan? seperti yang aku jelaskan diawal postingan ini, dan ya… agar mereka bisa mengeksplor lebih banyak apa yang ingin ungkapkan, karena jika ditulisan selain aku males bacanya karena dapat dipastikan tulisan mereka akan berantakan (karena jawabannnya pasti akan panjang), laluuu jadi tauu sendiri kan mana yang benar dan langsung cek saat itu juga, ketauan siaapa yang bekerja dan siapa yang tidak. mau tau langsung pemahaman mereka, dan bagaimana menyikapi keadaan dengan pertnyaan random yang mereka harus siap jawab detik itu juga, berlatih berpikir cepat.

banyak pelajaran yang diambil sebenernya dari test lisan ini. dan aku sendiri sih suka, terlihat gaya-gaya mereka dalam menjawab bahkan tak sedikit yang blank jika ditanyaa, bantu temannya dan gugup. berbicara juga jadi berantakan, banyak yg lupa dan ketauan gabut. hahahaha, tapi tak dikit juga lancar menjawab, sistematis, bagus, tegas, pede,, yakin ya pokoknyaa oke.

 

kemarin saya sempat memfoto ekspresi mereka dalam menjawab, di depan langsung para mahasiswaku. ini ekspresi-ekspresi mereka sewaktu ujian lisan.

lucu-lucu ya ekspresi mereka, itu ada yang bikin saya justru tertawa. karena kelinglungan mereka dan yaa ekpresi mereka yang berpikir keras. diakhir ujian saya bertanya tentang kuliah selama satu semester ini, dan saya bahagia mendengar jawaban mereka, bahwasanya mereka jadi lebih paham tentang studio, tentang perencanaan, prosedur perencanaan, mau tidak mau harus bekerja, berlatih menulis dan berpikir, tegang tiap saat harus siap presentasi, intinya mereka jadi lebih baik. dan aku sungguh bahagia mendengarkan ini.

terlepas ini ada yang tidak enak untuk bilang yang tidak bagus, tapi aku sih bilang dari awal “ini untuk saran studio wilayah kedepannya karena kalian pertama kali”, and thn yang aku denger adalah hal-hal positif, terutama bagaimana mereka merasakan perubahan pada diri mereka sendiri jadi lebih baik. im so happy and im so proud of them.

ada sih yang kurang seperti asistensi, tapi ya itu aku pikir salah mereka untuk tidak mau aktif dan cari tau dan bertanya kepada dosennya ini.hihihi.. padahal untuk asistensi tuh aku buka 24jam loh di email, kalau whatsapp baru tuh kaan terbatas.

diakhir ujian aku juga meminta mereka mengisi penilaian teman mereka sendiri, disini aku mengajarkan untuk profesional, teman bukan berarti bisa dan selalu bekerja bareng dengan baik, bukan berarti teman baik harus selalu dibela untuk urusan ini. jadi intinya adalah tetap berteman tapi untuk urusuan pekerjaan jika teman salah ya salah, jika baik ya apresiasi dengan baik. hihihi.. dan mereka bagusnya bisa menerima pola pikir seperti itu dan menurutku sangat fair mereka menilai teman mereka sendiri. dan terakhirr.

 

ini foto kami bersama sebelum bertemu lagi semester depan atau bahkan bertemu saat ujian kelulusan. hihihhi.. (hayo yang mana dosennya?) – nyaru gak? seperti seumuran ya? hahahahaha..

para mahasiswa ku : ki – ka (atas): cevin, dwi, jan arthur, adnan, dwi, rezha (eca), DOSENNYA, edo, rahmi, tanty, erdi, bimo, reza, bayu. (bawah) : calvin, handri, zannur, bagus dan azrul (ketua studio)
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

You may also like