28 hari

 

2012..

Senin itu aku naik KRL dan tepat di depanku seorang pria berbadan tegap, tinggi kira2 173cm, berjenggot, menggunakan jam swiss army, berbaju rapih, dan sangat wangi. Lalu dia tersenyum padaku. Ntah mengapa akupun jadi salah tingkah dibuatnya. Aku pun naik dari stasiun kebayoran dan ternyata kami sama-sama turun di stasiun tanah abang lalu berpisah.

Esok hari aku pun kembali naik KRL, aku tak terpikir akan ketemu orang yang sama seperti kemarin. Seperti kemarin, Aku pun naik di st.kebayoran dengan gerbong tengah yang acak (random).. dan ketika aku memasuki gerbong aku kembali berhadapan dengan pria yang kemarin dan dia kembali tersenyum. dan lagi-lagi aku salah tingkat ditambah bingung. aku menunduk dan tersipu malu, ntah apa warna pipi ku ini, apakah semerah jambu, atau semerah delima.. akupun berfikir  “ada kah hal yang bisa kebetulan untuk beberapa kali dan berulang. Ah tapi baru dua kali dan sangat wajar Pengguna KRL jam segini kan orang nya yaaa hanya itu2 saja. jadi wajar banget aku ketemu lagi dengan dia”

Hari ketiga keempat kelima kejadian ini selalu sama. seorang pria asing tersebut selalu membuat tersenyum hingga salah tingkah, hanya bertatap muka, melempar senyum, membuat pipiku merona merah dan tentunya membuatku bersemangat pagi hari. sejak kejadian di hari ketiga, membuatku semangat untuk bangun lebih awal dan berias diri agar terlihat manis di depannya. ntah kenapa aku melakukan ini, hal yang sangat jarang aku lakukan. hampir memakan waktu 30 menit hanya untuk memilih baju, 30 menit untuk berias manis, tidak menor dan tetap menarik perhatian.

waktu pun sudah berjalan 28 hari dan selalu kebetulan yang sama selama 28 hari. tapi mengapa dia tak ada keberanian untuk menyapaku terlebih dahulu. apa harus aku yang menyapanya? ohhhh no. tentu tidak. itu tidak boleh terjadi. walaupun aku sekarang hidup di zaman milenia dimana perempuan mempunyai hak yang (hampir) sama denga pria, menurutku untuk maju dan kenal duluan tidak ada dikamus hidupku ini, terlebih lagi ini orang asing, tidak tau darimana. Ah tapi aku pernah berkenalan duluan dengan pria, tetapi itu dalam lingkungan sekolah, bukan dengan orang asing atau orang yang ingin dijadikan teman spesial.

tetapi aku gemas sendiri, kenapa dia melakukan hal ini terhadapku. hufftt.

..

Hari ke 29 aku tak bertemu dengannya di gerbong ini. Aku gelisah. Aku cemas. Aku tak bersemangat. Aku sedih tidak ada sapaan senyum pagi lagi yang membuat semangatku akhir-akhir ini selalu tinggi. Aku berpikir, mungkin besok bisa ketemu dengannya dan pertemuan kebetulan yang ke 30.

Esok nya ternyata sama saja, akupun tak bertemu dengannya.. apa aku salah gerbong? apa dia tak mau menemuiku lagi dengan berpindah gerbong.. sepanjang perjalanan aku pun berpikir kemungkinan yang terjadi..

hari ke 31 pun seperti ini kembali.. Aku berpikir keras bagaimana menemukannya jika dia di gerbong yang berbeda. ah iya, setibanya di Tanah Abang, aku harus segera turun dan menunggu seluruh penumpang turun untuk melihat penumpang dari seluruh gerbong. 30 menit aku menunggu dan mencari-cari, tetapi hasilnya nihil. semangatku seperti hilang bersamaan dengan dirinya yang tiba-tiba menghilang.

dan aktivitas ini selalu ku lakukan setiap hari ketika aku menggunakan krl.. setiap hari, dan aku berharap dan selalu berharap segala kemungkinan yang terjadi bahwa aku akan bertemu dengannyaa.

aku pun kesal terhadap diriku sendiri, kenapa aku tak pernah memulai duluan hanya sekedar “Hai, Halo, Kerja dimana…”

..

2016.

Rabu pagi, ntah kenapa aku memilih naik krl dibandingkan diantar. sekiranya sudah 1 tahun aku tidak pernah naik KRL lagi. Pagi-pagi jam 07.00 aku sudah stanby di st.kebayoran. aku memilih naik Gerbong ditengah dan aku tak memilih ingin naik di gerbong nomor berapa. kereta datang dan pintu gerbong dibuka, aku pun dengan santainya memasuki Gerbong. Merapihkan baju, menggantungkan tangan dipegangan tangan, dan firasat apa yang membawaku ini untuk menengok ke arah depan serong kanan, persis di serong depan ku. jarak kami sangat dekat.

aku melihatnyaa. setelah 4 tahun lalu. pria asing yang membuat 28 hariku bahagia dan bersemangat, yang membuatku harus meluangkan waktu 1 jam lebih dini untuk bangun dan lebih lama di cermin, yang membuatku harus menunggu hingga 30 menit setelah kereta tiba di St. Tanah Abang, berulang selama 3 tahun.

Aku tersenyum lebar, ingin rasanya menyapaa tapi ku tahan. aku sedang menikmati senyumnya dan wanginya yang sama dengan wangi 4 tahun lalu.

dia tersenyumm lama kepadaku dan ada suara keluar dari mulutnya “HAI”.

aku semakin salah tingkah dan membalas senyumannya sembari membalas mengucapkan sapaan paginya “hai” juga.

yaaa hanya Hai saja. 3 huruf, 1 kata “HAI”

kami berdua diam.. dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara dari dirinya..

“sudah lama ya kita tidak bertemu sejak 4 tahun yang lalu. Kamu tidak berubah sejak waktu pertama saya lihat, ya tepat 4 tahun lalu di gerbong yang sama”.

Aku membalas obrolannya “oiyaah mas.” dan sambil tersenyum kepadanya.

dan kami sama-sama melihat kearah tangan yang menggenggam pegangan kereta, masing-masing mata tertuju kepada jari manis tangan kanan kami yang sama-sama telah terpasang cincin.. dan tersenyum..

kehingan pun kembali menyapa kami kembali..

 

photo by : @meganovetrishka

cerita ini hanya fiksi belaka.


You may also like

6 Comments

  1. Hai juga…
    Wah seandainya waktu bisa diputar kembali,,,mungkinkah mbak mega kembali ke masa itu dan berani menyapa duluan???

    1. hehehehe.. tapi ini sebenernya beneran fiksi mba arhaa.
      kalau pengalamanku hanya suka bertemu orang yang memang setiap hari naik keretn dan memang pernah kebetulan bertemu berkali-kali dengan orang dan itu juga bapak2 yang sudah beristri serta punya anak (tapi emang ini ceritanya terinspirasi dari situ sih, pertemuan orang di kereta berkali-kali).
      tapi kalau sampai kejadian seperti ini, hahahaha ini hanya khayalan aku sajooo..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *